Konselor Sebagai Pribadi Penyembuh



Konselor Sebagai Pribadi Penyembuh
Daftar berikut ini bukanlah penggolongan yang dogmatik dari cara yang “benar” untuk menjadi terapis. Penggolongan ini dimaksudkan untuk menggairahkan Anda untuk meneliti gagasan Anda tentang orang macam apa yang dapat membuat perbedaan yang signifikan dalam hidup orang lain.


  • Konselor yang efektif adalah mereka yang memiliki identitas. Mereka tahu siapa mereka sebenarnya, akan mampu menjadi apa mereka itu, apa yang mereka inginkan dari hidup ini, apa yang esensial. Meskipun mereka memiliki cita rasa yang jelas tentang prioritas mereka, mereka ada kemauan untuk meneliti ulang nilai yang mereka yakini dan sasaran yang mereka tuju. Mereka bukan hanya sekedar refleksi dari macam orang yang diharapkan atau diinginkan orang lain tetapi orang yang berusaha untuk hidup sesuai dengan standar internal mereka.
  • Mereka menghargai dan menaruh rasa hormat pada diri sendiri. Mereka bisa memberi pertolongan dan cinta kasih yang keluar dari cita rasa tentang harga diri dan kekuatannya. Mereka juga mampu untuk meminta, untuk diminta membantu, dan untuk menerima dari orang lain. Mereka tidak mengisolasikan diri dari orang lain sebagai cara menunjukkan suatu kesan palsu akan kekuatan yang mereka miliki.
  • Mereka mampu mengenal dan menerima kekuatan mereka sendiri. Mereka merasa cukup sederajat dengan orang lain dan mengizinkan orang lain merasakan yang ada pada dirinya. Mereka tidak memandang kecil pada orang lain sehingga orang lain akan relatif merasa memiliki kekuatan. Mereka menggunakan kekuatan mereka dan memberi teladan bagaimana menggunakannya secara sehat kepada klien, tetapi mereka menghindari penyalahgunaan kekuatan itu.
  • Mereka terbuka pada perubahan. Daripada berkutat pada hal yang sedikit, mereka merentangkan diri untuk menjadi lebih. Mereka menunjukkan suatu kesediaan dan keberanian untuk beranjak dari apa yang sudah diketahuinya manakala mereka tidak puas dengan apa yang telah mereka miliki.
  • Mereka memperluas kesadaran mereka akan diri mereka sendiri dan diri orang lain. Mereka menginsyafi bahwa jika kesadaran mereka terbatas maka kebebasan mereka akan terbatas pula. Daripada membuang-buang energi dalam bentuk sikap bertahan yang ditata untuk menghalangi datangnya pengalaman-pengalaman baru, mereka memilih untuk memusatkan perhatian pada tugas-tugas yang berorientasi pada kenyataan.
  • Mereka bersedia dan mampu untuk menerima adanya ambiguitas. Kebanakan dari kita hanya sedikit membuka pintu hati untuk masuknya hal yang kurang jelas. Oleh karena pertumbuhan itu bergantung pada sikap meninggalkan hal yang sudah dikenal dan masuk ke kawasan yang belum dikenal maka orang yang terlibat dalam pertumbuhan pribadi akan bersedia untuk menerima adanya sikap mendua dalam hidupnya. Pada waktu orang membangun kekuatan egonya maka ia mengembangkan kepercayaan diri yang lebih besar – maksudnya adalah percaya pada proses dan pernilaian intuitif serta bersedia untuk bereksperimen dengan perilaku baru. Pada akhirnya ia melihat kenyataan bahwa ia bisa dipercaya.
  • Mereka mengembangkan gaya konseling mereka sendiri. Ini adalah ungkapan dari falsafah hidup mereka dan hasil pertumbuhan dari pengalaman hidup mereka. Meskipun mereka mungkin secara bebas meminjam gagasan dan teknik dari banyak terapis yang lain tidak lalu berarti bahwa secara mekanis mereka menjiplak gaya orang lain.
  • Mereka dapat mengalami dan mengetahui dunia kliennya, namun rasa empati mereka bukanlah diwarnai dengan keinginan untuk memiliki. Mereka sadar akan perjuangan dan kepedihan mereka, dan mereka memiliki kerangka acuan untuk mengidentifikasikannya dengan orang lain tanpa harus mengorbankan identitas diri mereka sendiri dengan cara mengidentifikasikannya secara berlebihan dengan orang lain.
  • Mereka rasakan dirinya bergairah hidup dan pilihan mereka berorientasi pada kehidupan. Mereka terlibat pada hidup secara penuh dan bukan hanya merasa puas dengan keberadaannya. Mereka tidak membiarkan keadaan untuk membentuknya tanpa ada usaha dari dirinya, oleh karena mereka mengambil ancang-ancang yang aktif menghadapi hidup.
  • Mereka adalah orang-orang yang otentik, bersungguh-sungguh dan jujur. Mereka tidak hidup di alam pura-pura melainkan berusaha untuk menjadi orang seperti yang dia pikirkan dan dia rasakan. Mereka bersedia untuk membuka diri terhadap orang lain yang telah mereka pilih. Mereka tidak bersembunyi di balik topeng, benteng pertahanan diri, peran-peran yang mandul dan tampang muka.
  • Mereka memiliki rasa humor. Mereka mampu untuk penempatkan peristiwa hidup dalam lingkup perspektif. Mereka tidak lupa bagaimana menertawakan sesuatu, terutama menertawakan ketololannya dan kontradiksinya sendiri. Rasa humor memungkinkan mereka untuk menempatkan problema dan ketidaksempurnaan mereka dalam lingkup perspektif.
  • Mereka bisa membuat kesalahan dan mau mengakuinya. Biarpun mereka tidak dibebani oleh perasaan bersalah tentang apa yang dulu bisa atau seharusnya mereka lakukan mereka tetap harus belajar dari kesalahan yang telah mereka buat. Mereka tidak seenaknya saja melupakan kesalahan itu tetapi juga tidak terus menerus merenunginya.
  • Mereka biasanya hidup di masa kini. Mereka tidak terpaku pada masa silam, namun juga tidak terpaut erat dengan masa depan. Mereka mampu untuk berkutat pada “hari ini”, hidup di masa kini, dan hadir di masa kini dengan orang lain Mereka bisa berbagi penderitaan atau kegembiraan dengan orang lain oleh karena mereka terbuka terhadap pengalaman emosional mereka sendiri.
  • Mereka menghargai adanya pengaruh budaya. Mereka sadar akan cara budaya mereka bisa menanamkan pengaruh pada mereka, dan mereka menaruh hormat pada bhinneka nilai yang dianut oleh budaya lain. Mereka juga peka terhadap perbedaan yang unik yang timbul dari kelompok sosial, suku, dan jenis kelamin.
  • Mereka mampu untuk menggali kembali sosok pribadi mereka sendiri. Mereka bisa menggairahkan kembali dan menciptakan hubungan yang signifikan dalam hidup mereka. Mereka membuat keputusan tentang jenis perubahan yang mereka inginkan, dan berusaha untuk menjadi orang seperti yang mereka cita-citakan.
  • Mereka adalah orang yang membuat pilihan-pilihan yang bisa membentuk hidup mereka. Mereka sadar akan keputusan-keputusan yang mereka ambil sebelumnya tentang dirinya, orang lain, dan dunia. Mereka bukanlah korban dari keputusan-keputusan itu oleh karena mereka mau mengubahnya jika perlu. Oleh karena mereka tidak henti-hentinya mengevaluasi diri, maka merekapun tidak terbelenggu oleh definisi diri yang sempit.
  • Mereka menaruh perhatian yang serius terhadap kesejahteraan orang lain. Perhatian ini didasarkan pada rasa hormat, kepedulian, kepercayaan, dan penghargaan yang tulus kepada orang lain. Implikasinya ialah pada kesediaan mereka untuk menantang orang yang signifikan dalam hidupnya untuk juga tetap membuka diri agar bisa terus berkembang.
  • Mereka menjadi terlibat secara penuh dalam karya mereka dan menyerap makna darinya. Mereka dapat menerima imbalan-imbalan yang mengalir dari karyanya secara jujur mereka mampu mengakui bahwa egolah yang membutuhkan itu yang kemudian bersyukur karenanya. Namun mereka bukan budak karya mereka dan mereka tidak secara eksklusif bergantung padanya untuk bisa menjalani hidup yang penuh makna. Mereka ada interes lain yang memberi mereka cita rasa akan tujuan dan penyelesaian tugas.


(Source: Corey, Gerald. 1991. Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi. California: Brooks/Cole Publishing Company.)  
× 『rui@96yR』【butterflyuu】 ×

Komentar